Laman

Kamis, 28 Maret 2013

TANYA-JAWAB SEPUTAR "MENGENAL DIRI - MENGENAL ALLAH"

"MAN AROFAH  NAFSA HU FA QOD AROFAH  ROBBAHU ...
Barang siapa mengenal diri-nafs ruhaninya maka ia mengenal Tuhannya."

Mengenal diri merupakan kunci mengenal Tuhan. Tak ada yang lebih dekat kepada kita kecuali diri kita sendiri. Karena itu, kita harus belajar untuk mengenal diri kita sendiri berangkat dari menyingkap Rahasia Tuhan pada diri-jasad menuju mengenali dan menyingkap Rahasia Allah pada diri-nafs ruhani kita sehingga pada akhirnya kita diizinkan dan dirahmati-Nya untuk mengenal Allah SWT (Ma'rifatullah).

Pernahkan kita bertanya ke dalam diri sendiri:

"Siapakah aku dan dari mana aku datang? Kemana aku akan pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini? Dan dimanakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan?"

Sudahkah diketahui bahwa ada 4 sifat yang bersemayam dalam diri kita: hewan, setan, malaikat, dan Tuhan. Kita harus bisa menemukannya, mana di antara keempatnya yang aksidental dan mana yang esensial. Jika kita tidak menyingkap rahasia ini, maka tak akan kita temukan kebahagiaan sejati.

Siapakah aku? Dari mana asal-usulku?
Apakah aku dari datang unsur Hewan?
Apakah aku dari datang unsur Setan?
Apakah aku dari datang unsur Malaikat?
Apakah aku dari datang unsur Tuhan?

Kemanakah aku akan pulang nanti setelah diri-jasadku mati?
Apakah aku akan pulang kembali ke unsur Hewan?
Apakah aku akan pulang kembali ke unsur Setan?
Apakah aku akan pulang kembali ke unsur Malaikat?
Apakah aku akan pulang kembali ke unsur Tuhan?
Apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia fana' ini?


Menurut Al-Qur'aan, manusia dihadirkan ke muka bumi ini adalah untuk melaksanakan Tugas dan Misi Hidup dari Allah SWT (Rajanya manusia, Malikin-naas).

Apa TUGAS HIDUP-ku sebagai manusia yang diutus Raja Manusia (Malikin-naas / Allah SWT) ke muka bumi ini?

PERTAMA, menjadi Budak / Pelayan / Hamba / Abdi Allah SWT ('Abdullah, Ibadillah) sesuai firman-Nya:

"Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin-pikiran dan manusia (diri-jasad dan diri-nafs ruhani) melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."

KEDUA, menjadi Saksi Allah SWT (Syahid-diin, Syuhada) sesuai firman-Nya:

"Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien (yang mengenal Al-Haqq / Allah SWT dengan Haqq / Benar), yaitu orang-orang yang menjadi Saksi di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan Nuur-Cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka." (QS Al-Hadiid 57: 19).

"Dan orang-orang yang tidak memberikan Kesaksian Palsu, dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah (bersaksi-palsu), mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya (yang tidak memberikan Kesaksian Palsu, terhormat di sisi Allah SWT)." (QS Al- Furqaan 25: 72).

"Dan ketahuilah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam (manusia) dari sulbi (tulang ekor) mereka dan Allah mengambil kesaksian (syahadat) terhadap jiwa (diri-nafs ruhani) mereka seraya Dia berfirman: "Bukankah Aku (Yang punya nama / asma "ALLAH") ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Benar, Engkau Tuhan kami, kami menjadi Saksi-Mu." Kami lakukan kejadian yang demikian itu agar di hari dibangkitkan diri-nafs ruhanimu ke dalam diri-jasadmu (terlahir ke muka bumi) nanti kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (manusia) adalah orang-orang yang tidak ingat lagi (lupa) terhadap kesaksian (syahadat) ini", (QS Al-A'raaf 7: 172).

Apa MISI HIDUP-ku dari Malikin-naas (Raja Manusia / Allah SWT)?

Misi Hidup manusia adalah membentuk pribadi Ihsan-Taqwa yang siap menjadi Khalifah Allah SWT (perwakilan Allah SWT) di muka bumi-jasad dan bumi-jagad dengan membawakan "rahmatan lil 'alamiin" memenuhi harapan dan kehendak-Nya:

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah (perwakilan Allah) di muka bumi." (QS Al-Baqarah 2: 30).

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu (diri-nafs ruhani), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam ("rahmatan lil 'alamiin")." (QS Al-Anbiyaa' 21: 107).

Untuk dapat melaksanakan Tugas Hidup dan Misi Hidup kita tersebut di atas, terlebih dahulu kita harus mengenali dan menguasai ke 4 Sifat tersebut.
Caranya:

    Sifat Hewan dikenali dan dikuasai dengan Amaliyah / Laku Syari'at;
    Sifat Setan dikenali dan dikuasai dengan Amaliyah / Laku Tarikat;
    Sifat Malaikat dikenali dan dikuasai dengan Amaliyah / Laku Hakikat; dan
    Sifat Tuhan dikenali dan dikaruniakan-Nya kepada hamba yang dikehendaki-Nya dengan Amaliyah / Laku Ma'rifat.

Nabi Besar Muhammad SAW bersabda: "Takhallaqu fi akhlaq Illah ... berakhlaklah engkau dengan akhlak Allah."

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, "Setiap anak dilahirkan dengan fithrah (kondisi diri-nafs ruhani yang mengenal Allah Al-Fathir); Orang tua dan lingkungannya kemudian menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (memeluk agama tertentu)."

Setiap manusia, di lubuk terdalam kesadarannya mendengar pertanyaan Tuhannya, "Bukankah Aku ini Tuhamu?" Dan menjawab "Ya, aku menjadi Saksi-Mu." (Lihat Al-Qur'aan Surat Al-'Araaf 7: 172).

Tetapi kebanyakan hati manusia bagaikan cermin yang telah tertutup karat dan kotoran sehingga tidak dapat memantulkan gambaran yang jernih, atau seperti rembulan yang ditutupi gerhana total sehingga tidak dapat menerima dan memantulkan / memancarkan sinar Cahaya Sang Matahari. Berbeda dengan hati para nabi dan wali yang, meski mereka pun memiliki nafsu serupa kita, sangat peka terhadap kesan-kesan Ilahiah.

Sumber: Ayahanda Ridhwanullah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar